satlantas poltabes medan
Medan – Langkah DPD KNPI Sumatera Utara menyambangi Satlantas Polrestabes Medan, Selasa (7/4/2026), patut dicatat. Namun publik tak butuh basa-basi—yang ditunggu adalah aksi nyata, bukan sekadar foto dan pernyataan normatif.
Dipimpin Parman Simanjuntak, rombongan KNPI datang membawa jargon sinergi. Tapi di lapangan, persoalan klasik masih menumpuk: pelanggaran lalu lintas marak, kesadaran pengguna jalan rendah, dan peran pemuda kerap tak terlihat signifikan di Medan.
Dalam audiensi tersebut, KNPI menegaskan pentingnya kolaborasi dengan aparat penegak hukum. Pernyataan yang terdengar ideal, namun publik berhak mempertanyakan—sejauh mana organisasi kepemudaan benar-benar turun tangan, bukan sekadar hadir di ruang pertemuan?
“Pemuda harus jadi garda terdepan perubahan,” ujar Parman. Pernyataan ini menjadi tantangan terbuka: apakah KNPI siap mengawal hingga ke jalanan, atau berhenti di meja diskusi?
Pihak Satlantas Polrestabes Medan melalui KaSubnit II Gakkum, S.R. Simanjuntak, menyambut baik inisiatif tersebut. Namun realitanya, penegakan hukum di jalan raya masih menghadapi berbagai kendala, dari pelanggaran kasat mata hingga minimnya disiplin pengendara.
Pertemuan berlangsung hangat, tetapi substansi menjadi sorotan. Tanpa langkah konkret—edukasi massif, pengawasan bersama, hingga keterlibatan langsung pemuda—sinergi ini berpotensi menjadi rutinitas tanpa dampak.
Kini sorotan tertuju pada KNPI Sumut dan Satlantas Polrestabes Medan. Publik menunggu: apakah kolaborasi ini akan menekan pelanggaran dan menciptakan ketertiban, atauu kembali tenggelam sebagai agenda seremonial tanpa hasil nyata?
